<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>

<channel>
	<title>Superimposisi</title>
	<link>http://pitakasari.blogsome.com</link>
	<description></description>
	<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 08:49:45 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>
	<language>en</language>

		<item>
		<title>Ikon Baru di Puncak Kota</title>
		<link>http://pitakasari.blogsome.com/2005/12/01/ikon-baru-di-puncak-kota-2/</link>
		<comments>http://pitakasari.blogsome.com/2005/12/01/ikon-baru-di-puncak-kota-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Dec 2005 20:16:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ajeng Ritzki Pitakasari</dc:creator>
		
	<category>Artikel</category>
		<guid>http://pitakasari.blogsome.com/2005/12/01/ikon-baru-di-puncak-kota-2/</guid>
		<description><![CDATA[	

	
	
 
	
	

	Hunian bertingkat supermewah menjulang di pusat bisnis Sudirman. Bakal menjadi ikon baru Jakarta. Menggunakan teknologi konstruksi corewall generasi ketiga

	MENDENGAR kata The Peak, benak kita seperti dituntun untuk membayangkan puncak gunung yang menjulang tinggi. Namun The Peak kali ini sama sekali tak ada hubungannya dengan gunung, meski tetap berukuran tinggi. Ini adalah nama sebuah apartemen [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><a href="http://www.the-dragonfly.com"><br />
<table border="0" cellspacing="1" cellpadding="0" width="90%" align="center">
	<tr>
	<td align="left" valign="left">
<img src="http://img222.imageshack.us/img222/7610/thepeak1a4mc.jpg" height="100" border="0" width="214" /> </td>
	</tr>
	</table>
</a></p>
	<p><em>Hunian bertingkat supermewah menjulang di pusat bisnis Sudirman. Bakal menjadi ikon baru Jakarta. Menggunakan teknologi konstruksi corewall generasi ketiga<br />
</em></p>
	<p>MENDENGAR kata The Peak, benak kita seperti dituntun untuk membayangkan puncak gunung yang menjulang tinggi. Namun The Peak kali ini sama sekali tak ada hubungannya dengan gunung, meski tetap berukuran tinggi. Ini adalah nama sebuah apartemen baru yang dibangun dikawasan bisnis Sudirman, Jakarta, tepatnya di Jalan Setiabudi, belakang Hotel Four Season atau berseberangan dengan Mid Plaza. The Peak, A Beaufort Residence, begitulah nama kompleks apartemen yang dikelola oleh The Beaufort International Group Hotel Chain itu.</p>
	<p>Melihat letaknya yang strategis, bisa ditebak bahwa kompleks hunian ini memiliki fasilitas lengkap dan mahal. Apartemen yang berjumlah 462 unit ini memang tergolong mewah. Ini sesuai dengan niat pengembang, PT Graha Tunasmekar dari Grup Agung Podomoro, untuk menciptakan hunian eksklusif. &#8220;Pasar yang kami bidik memang segmen kelas atas,&#8221; ungkap Very Y. Setiady, Direktur Eksekutif The Peak Sudirman.</p>
	<p>Very menyadari, pangsa pasar ini memang cukup kecil di Jakarta. &#8220;Tapi tetap ada,&#8221; ujarnya yakin. Mengingat tipe pasar yang tersegmen dengan pola hidup spesifik ini, pihaknya tidak main-main dalam mendesain apartemen. &#8220;Dengan ketinggiannya, kami ingin apartemen ini menjadi ikon baru bagi kota Jakarta.&#8221; Very menambahkan.</p>
	<p>Ikon itu diharapkan mewakili identitas penghuninya. Di dalam ikon itu, nanti penghuni mendapat fasilitas hotel bintang lima. Sebuah proyek yang ambisius. Demi mewujudkan ambisi tersebut, Graha Tunasmekar tak tanggung-tanggung. Beberapa konsultan kelas dunia digandeng dalam penggarapan proyek ini.</p>
	<p><a id="more-20"></a>Ada tiga konsultan desain utama, yaitu DP Architecs Pte Ltd dari Singapura yang pernah mengarsiteki Wisma BNI 46 dan PT Airmas Asri sebagai arsitek, HBA/Hirsch Bedner Associates Pte Ltd sebagai konsultan interior, PT Davy Sukamta &#038; Partners untuk konsultan rancangan struktur, dan PT Arnana Pratama &#038; PT Asdi Swasatya Joint Operation sebagai konsultan mekanikal elektrik dan sistem plumbing.</p>
	<p>Selain konsultan utama itu, pembangunan The Peak juga melibatkan beberapa konsultan spesialis, antara lain Belt Collins International sebagai konsultan lanskap dan Bo Steiber Lighting Design untuk tata cahaya. Bahkan untuk fasade, The Peak menggunakan konsultan Arup Singapore perwakilan Asia yang bermarkas di Inggris. Konsultan terakhir ini dulu menggarap fasade untuk bangunan Petronas Tower, Kuala Lumpur.</p>
	<p>Perlukah sampai seperti itu? &#8220;Bagaimana menarik pelanggan kelas atas yang sangat terbatas itu jika tidak menawarkan kualitas terbaik,&#8221; ujar Very. Dengan konsultan yang spesifik itu, Very berani mengklaim bahwa apartemennya adalah apartemen pertama di Indonesia yang dibangun dengan teknologi terbaru.</p>
	<p>Konsep desain yang digunakan oleh DP Architecs adalah gedung metropolitan modern. Bakal ikon baru kota Jakarta ini tampil dengan karakter dua menara kembar yang diharapkan tak lekang oleh zaman. Sebuah ketinggian spektakuler dalam bentuk simetri.</p>
	<p>Nantinya, desain apartemen terdiri dari empat menara. Dua menara 35 lantai yang dinamai Regency dan Regal menghadap selatan. Sedangkan dua menara tertinggi masing-masing 215 meter dengan 55 lantai bernama Regis dan Renais menghadap utara. Menara ini didesain untuk menimbulkan presepsi manusia tentang kemegahan.</p>
	<p>DP Architecs membagi desain Apartemen The Peak dalam tiga komposisi. Pertama, lay out atau ground area sebagai mata air hijau, laiknya sebuah pulau peristirahatan di tengah hiruk-pikuk dan keruwetan kota Jakarta. Kedua, menara adalah komposisi dari ekspresi linear dan kesederhanaan vertikalitas, dan terakhir puncaknya (Crown) adalah komposisi yang menunjukkan identitas atau ciri khas bangunan ini.</p>
	<p>Konsep arsitektur modern dalam nuansa tropis itu juga tertuang dalam desain interior. Desain cenderung simpel dengan garis-garis yang bersih dari unsur dekoratif. Meskipun demikian, itu tidak mengurangi kesan hangat khas tropis, terlebih dengan pemilihan warna-warna tanah, merah kecokelatan.</p>
	<p>&#8220;Kami mengakomodasi klien yang sudah sangat mapan. Kalau terlalu minimalis, tidak sesuai dengan jiwa mereka&#8221; papar Very. Toh, tersedia pula interior dengan desain bergaris lebih simpel dan lugas, untuk mengakomodasi pasangan muda yang lebih dinamis.</p>
	<p>Selain bentuk dan tampilannya, yang menarik dari apartemen ini adalah pada sistem konstruksinya. Digarap oleh ahli struktur Davy Sukamta, gedung ini menggunakan konsep bangunan tinggi generasi ketiga. Generasi ketiga adalah tipe bangunan di mana gedung tinggi bisa berbentuk langsing namun tetap kaku.</p>
	<p>Dalam sejarah bangunan tinggi, gedung tinggi biasanya memiliki volume besar. Misalnya Empire State Building di Manhattan, New York, salah satu bangunan tinggi generasi pertama yang berbadan bongsor. Untuk mendapatkan kekakuan, bangunan itu memerlukan kolom-kolom berukuran besar.</p>
	<p>Salah satu penyebab munculnya generasi ketiga adalah untuk efisiensi bangunan seperti yang ingin pula dicapai oleh The Peak. Kelebihan hunian tinggi ada pada keluasan pemandangannya. Untuk mencapai ini, setiap ruangan harus memiliki jendela, dan volume bangunan tidak boleh terlalu besar agar diperoleh bukaan di setiap sisi.</p>
	<p>Dengan konsep itu, arsitek The Peak mendesain bangunan dengan kelangsingan 1: 8. Skala ini didapat dari perbandingan lebar gedung dengan tinggi gedung. Dengan ketinggian 215 meter, lebar The Peak hanya kurang lebih 27 meter.</p>
	<p>Menurut Davy Sukamta, dengan perbandingan tinggi dan lebar seperti itu, gedung akan rentan bergoyang. Menurut ahli konstruksi tamatan Universitas Parahyangan, Bandung, itu, setiap kali merancang bangunan tinggi, yang dipikir adalah gedung harus kuat terhadap gaya gravitasi, gempa, dan angin. &#8220;Namun, kalau sudah setinggi ini, ada beberapa faktor yang dipertimbangkan. Sebab, semakin tinggi, maka kemungkinan bergoyangnya lebih besar,&#8221; kata Davy.</p>
	<p>Tapi gedung bergoyang bukan berarti tidak kuat. Seperti cemara yang tertiup angin, tak lantas membuatnya roboh, tetapi tetap saja meliuk. Begitu pula gedung tinggi. Goyangan itu, menurut Davy, terjadi karena masalah stiffness atau kekakuan. &#8220;Meski kuat, kalau goyang, kan tetap membuat penghuni takut,'&#8217; kata Davy, yang juga menjabat sebagai Ketua Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia. Padahal, selain kekokohan, unsur kenyamanan dan keamanan adalah hal yang tak bisa diabaikan.</p>
	<p>Selain itu, kekakuan juga diperlukan untuk menjaga integritas materi bangunan. Sebab, meski tetap berdiri kokoh ketika bergoyang, material seperti kaca yang menempel bisa saja terlepas. &#8220;Masak kita membangun gedung bagus-bagus, tapi kalau goyang, kacanya copot. Kaca setebal itu nggak cuma bisa melukai, melainkan juga mematikan,&#8221; ujarnya.</p>
	<p>Sebuah kasus menggelikan pernah terjadi di Boston, Amerika Serikat. Sebuah gedung setinggi 60 lantai bergoyang ketika ditiup angin. Kaca-kacanya rontok. Kejadian ini terus berulang, setelah kaca-kaca diganti. Pemilik gedung kemudian mengganti kaca-kaca tersebut dengan kayu lapis. Keesokan harinya, koran-koran memunculkan foto gedung itu dengan judul: &#8220;Inilah Gedung Kayu Tertinggi di Dunia&#8221;.</p>
	<p>Masalah kekakuan saat ini masih jarang diperhatikan di Indonesia, meski sudah jamak di dunia konstruksi. Untuk mengatasi problem kekakuan ini, Davy menerapkan sistem konstruksi corewall dan sistem outrigger. Corewall sendiri bukan barang baru. Ini struktur inti gedung tingkat tinggi berupa dinding beton dengan ketebalan tertentu dan berfungsi mengikat lantai.</p>
	<p>Sedangkan outrigger adalah struktur pengaku tadi. Berupa lengan yang terikat pada corewall hingga kolom terluar bangunan. Prinsipnya seperti perahu layar. Tiang layar adalah intinya, kemudian balok-balok silang dan layarnya adalah outrigger-nya. Sedangkan tali-tali layar yang diikatkan pada pasak adalah kolom outrigger-nya. Dengan kata lain, sistem ini memanfaatkan lebar bangunan untuk memaksimalkan kekakuan.</p>
	<p>Sistem struktur semacam itu sebenarnya diterapkan sejak 1970. Pertama kali dengan baja. Baru pada 1990-an ditemukan sistem struktur semacam itu dengan menggunakan lengan beton. Di Indonesia, The Peak adalah salah satu dari dua bangunan dengan sistem konstruksi ini, dan dua-duanya adalah garapan Davy Sukamta.</p>
	<p>The Peak memiliki tiga outrigger yang diletakkan di lantai 10 sampai lantai 12, lantai 21 hingga lantai 23, dan lantai 32 sampai lantai 34. Mengupayakan kekakuan dengan tiga outrigger dalam desain struktur ini bukannya tanpa perhitungan.</p>
	<p>Untuk memperoleh perhitungan kekuatan angin, dilakukan simulasi wind tunnel atau terowongan angin. Aparteman dibentuk dalam maket berskala 1: 50 terbuat dari dua materi, kayu balsa dan flexiglass. Dalam satu terowongan diembuskan angin ke model bangunan dengan kecepatan yang disesuaikan dengan kondisi setempat.</p>
	<p>Kekuatan angin yang digunakan Davy berdasarkan data rekaman angin Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, selama 20 tahun. Setelah dianalisis secara statistik, ditentukan angin lima tahunan, angin 10 tahunan, dan angin 500 tahunan.</p>
	<p>Akhirnya, dari simulasi itu diperoleh hasil bahwa The Peak harus memiliki kekakuan untuk menahan angin 10 tahunan. Mengapa? Sebab hasil akselerasi di langit puncak setelah dikenai angin 10 tahunan, hasilnya menunjukkan 9,6 miligravitasi (mg).</p>
	<p>Batas maksimum internasional yang ditetapkan untuk hunian adalah 15 mg. &#8220;Untuk hunian sangat ketat di angka ini,&#8221; ujar Davy. Kalau di perkantoran orang sudah merasa pusing bekerja di gedung dengan akselerasi 15 mg, maka ia bisa pulang. &#8220;Kalau di rumah pun merasa pusing, lantas mau pulang ke mana,&#8221; Davy bercanda.</p>
	<p>Sementara untuk kekuatan material bahan, digunakan angin 100 tahunan. Ukuran angin 100 tahunan sendiri adalah 40 meter per detik. Dengan kata lain, apartemen ini dirancang untuk mampu menahan gaya yang ditimbulkan angin berkecepatan 144.000 kilometer per jam.</p>
	<p>Pengujian tersebut dilakukan di laboratorium terowongan angin Kanada, yang terletak di kota Western Ontario. Dalam rangka pengujian, pengembang bekerja sama dengan konsultan Kanada, Rowan Williams Davies and Irwin. Simulasi itu makan waktu tiga bulan.</p>
	<p>Davy cukup memberikan data-data tentang kecepatan angin, iklim, desain, dan segala persyaratannya. Sehingga, setelah uji dilakukan, yang dikirim adalah hasil simulasi tersebut yang langsung diterapkan pada bangunan.</p>
	<p>Gedung pun dirancang untuk menahan gempa 500 tahunan berdasarkan peraturan gempa Indonesia. Beton yang digunakan juga memiliki kualitas tinggi, 55 mpa (mega-pascal). Setiap satu sentimeter kubik mampu menahan gaya dari 550 kilogram beban.</p>
	<p>Untuk menghasilkan bangunan dengan tingkat kerumitan cukup tinggi itu, Davy mengaku telah mengupayakan kemampuan terbaiknya. Karena itu, ia tidak mengenal sisitem pemenang tender berdasar harga termurah untuk mendapatkan proyek. &#8220;Saya bisa memberi pelayanan seperti ini jika harganya sesuai. Kalau memang tidak ingin, silakan,&#8221; katanya.</p>
	<p>Desain terintegrasi itulah yang kemudian disodorkan oleh Apartemen The Peak kepada konsumennya. Dengan kualitas di setiap lini, mulai arsitektur, konstruksi, fasade, lanskap, tata cahaya, dan detail lainnya, pengembang pun berani mematok harga selangit untuk setiap unitnya.</p>
	<p>Untuk unit terkecil seluas 112 meter persegi, pembeli mesti merogoh kocek sebesar Rp 1,2 milyar. Sedangkan untuk menikmati pemandangan kota 360 derajat di penthouse seluas 418 meter persegi, pembeli mesti bersedia mengeluarkan duit sebesar Rp 8 milyar! &#8220;Pasar kami memang tipis, tapi saat ini sudah 85% unit yang diinden pembeli, termasuk penthouse,&#8221; ungkap Very mantap.</p>
	<p>Saat ini, pembangunan apartemen sudah mencapai tahap penyelesaian konstruksi. Pada menara 35 lantai, konstruksi telah selesai. Pemasangan atap (topping) untuk menara kembarnya ditargetkan selesai sebelum Lebaran. Sementara penyelesaian seluruh konstruksi beton dijadwalkan kelar hingga akhir tahun ini. Seluruh proyek ini, hingga penyelesaian akhir, diharapkan rampung pada akhir 2006.</p>
	<p>Gatra, Prayojana (desain)  46 / XI 1 Okt 2005<ins datetime="2005-12-02T08:09:24-07:00"></ins><code></code><!--more-->
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pitakasari.blogsome.com/2005/12/01/ikon-baru-di-puncak-kota-2/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Sarang Capung dari Indocina</title>
		<link>http://pitakasari.blogsome.com/2005/12/01/sarang-capung-dari-indocina/</link>
		<comments>http://pitakasari.blogsome.com/2005/12/01/sarang-capung-dari-indocina/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Dec 2005 19:16:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ajeng Ritzki Pitakasari</dc:creator>
		
	<category>Artikel</category>
		<guid>http://pitakasari.blogsome.com/2005/12/01/sarang-capung-dari-indocina/</guid>
		<description><![CDATA[	

	
	
    
	
	

	Sarang Capung dari Indocina
Berawal dari makanan, lalu terwujud dalam desain. Perbandingan panjang lebar menjadi tantangan. Terinspirasi dari analogi lemari kaca.

	INILAH sarang capung baru yang hadir di Jakarta, namanya Dragonfly. Sebuah simbolisasi vibrant lifestyle berwujud restoran dengan desain yang serba &#8216;&#8217;wah'&#8217;. Restoran berlokasi di lantai dasar Graha BIP, Jalan Gatot Subroto, Jakarta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><a href="http://www.the-dragonfly.com"><br />
<table border="0" cellspacing="1" cellpadding="0" width="90%" align="center">
	<tr>
	<td align="left" valign="left">
<img src="http://img214.imageshack.us/img214/6775/deretandragonfly1a8gn.jpg" height="178" border="0" width="400" />    </td>
	</tr>
	</table>
</a></p>
	<p><em>Sarang Capung dari Indocina<br />
Berawal dari makanan, lalu terwujud dalam desain. Perbandingan panjang lebar menjadi tantangan. Terinspirasi dari analogi lemari kaca.<br />
</em></p>
	<p>INILAH sarang capung baru yang hadir di Jakarta, namanya Dragonfly. Sebuah simbolisasi vibrant lifestyle berwujud restoran dengan desain yang serba &#8216;&#8217;wah'&#8217;. Restoran berlokasi di lantai dasar Graha BIP, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, ini lahir dari ide para pemilik Ismaya Group yang pada dasarnya hobi makan. Bernuansa kontemporer Asia, tempat makan ini dibuat oleh pemiliknya menjadi restoran berkelas.</p>
	<p>&#8220;Tujuannya tak hanya sebagai tempat makan, melainkan juga mengakomodasi gaya hidup pengunjungnya,&#8221; ungkap Kiki Utara, Manajer PR Dragonfly Restaurant. Konsep makanannya sendiri memang belum banyak dihadirkan restoran lain. Diadaptasi dari wilayah Indocina, khususnya Thailand, Laos, dan Kamboja.</p>
	<p>Pengaruh itulah yang dijadikan patokan untuk menyajikan menu andalan mereka, Modern Asian Cuisine. Nuansa interiornya pun tak jauh beda dari konsep makanan, menjelaskan esensi pengaruh Asia dan Dragonfly.</p>
	<p>Adalah Sonny Sutanto dan Ijus Julius yang dipercaya mendesain tata ruang Dragonfly. &#8220;Yang menarik bagi saya adalah ukuran ruang tersebut yang sangat panjang,&#8221; kata Sonny, mengomentari bentuk ruang Dragonfly. Bentuknya segi empat dengan ukuran 48 x 12 meter. Perbandingan panjang dengan lebar yang sangat mencolok ini, bagi Sonny, merupakan tantangan tersendiri.</p>
	<p><a id="more-18"></a>Sonny dan Ijus pun menganalogkan ruangan itu tak ubahnya lemari kaca tempat menyimpan berbagai benda pajangan. Menggunakan analogi tersebut, Sonny mendatangi klien hanya dengan tiga lembar skematik desain. &#8220;Memang cuma tiga lembar, tapi kalau kita serius dari sedikit lembar itu saja, klien sudah tahu kita sungguh-sungguh,&#8221; kata Sonny.</p>
	<p>Dalam kertas berukuran kuarto itu, Sonny menuangkan idenya tentang benda-benda atraktif dalam lemari pajangan. Komposisi saling kontras mengisi ruangan. Bentuk lengkung dan kurva ditabrakkan dengan bentuk bersiku dan bersudut tajam.</p>
	<p>Melihat desain skematis tersebut, sang pemilik restoran pun tertarik. Akhirnya digaraplah lemari pajangan superbesar itu. &#8220;Saya putuskan ada tiga benda sebagai pengisi utama,&#8221; ungkap Sonny.</p>
	<p>Benda pertama adalah grill table yang juga berfungsi sebagai meja bar dengan ukuran sangat panjang. Meja sepanjang 10,3 meter itu tidak jauh beda dengan meja-meja di restoran Ismaya Group lainnya: Blowfish Kitchen and Bar, yang terletak di suite room lantai 29-30, Menara Danamon, Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Dengan meja panjang inilah restoran dalam kelompok Ismaya Group, antara lain, menampilkan kekhasannya. &#8220;Orang akan mudah mengingat karena keunikan mejanya,&#8221; kata Sonny.</p>
	<p>Tidak bisa dimungkiri, desain meja tersebut memang tak biasa. Selain ukurannya yang panjang, letaknya pun miring melintang, tidak tegak lurus di tengah-tengah ruangan. Memberi efek kejut. Ditambah dengan meja-meja berukuran lebih kecil, yang juga miring melintang dengan posisi tak beraturan, membuat meja itu seperti bangunan geometris abstrak. Kursi-kursi diletakkan berderet tidak terpisah. Tujuannya memang menciptakan sebuah meja komunal panjang.</p>
	<p>Tak hanya itu. Meja berbahan marmer tersebut memiliki lampu yang ditempatkan di bagian bawah sehingga memberi kesan transparan. Pada malam hari, meja itu menjadi salah satu sumber pencahayaan yang cukup atraktif. Benda pertama ini mengisi area kiri dari arah pintu masuk restoran. Tempat ini juga berfungsi sebagai area lounge dan lunch.</p>
	<p>Benda kedua adalah meja panjang yang berada di area restoran. Tapi kali ini meja itu disusun teratur, tak lagi miring melintang. Kursi-kursinya pun diatur terpisah. Bentuknya sengaja dibuat panjang agar senada dengan meja panjang di area lounge.</p>
	<p>Benda ketiga adalah rak kayu raksasa tempat menyimpan botol-botol minuman. Deretan minuman ini memang menjadi salah satu daya pikat Restoran Dragonfly, yang memanjakan para penggemar wine, sampanye, dan lain-lain. Rak penyimpan minuman beralkohol ini didesain sedemikian rupa sehingga dapat menyembunyikan area restroom yang berada di dalam rak tersebut.</p>
	<p>Menurut perhitungan Sonny Sutanto, rak itu memiliki kapasitas menyangga 5.000 kilogram botol berisi minuman. Namun, apabila semua terisi penuh, beban yang ditopang gedung akan semakin besar. Tapi pihak pengelola lebih memilih tidak mengisi rak kayu setinggi langit-langit restoran tersebut hingga penuh.</p>
	<p>Area lounge dan restoran sendiri sebenarnya memiliki pemisah yang sifatnya sangat fleksibel. Pintu berukuran superbesar yang dapat berputar 180 derajat. Pintu yang didesain tanpa kusen ini melekat dari langit-langit hingga dasar lantai. Untuk waktu-waktu tertentu, seperti pada jam-jam makan siang, pintu ini berfungsi memisahkan area lounge dengan restoran.</p>
	<p>Pintu pembatas tersebut juga berfungsi sebagai elemen interior. Pintu fiber bercat abu-abu gelap kebiruan itu dihiasi ukiran serangga abstrak. Lekuk-lekuknya diberi sentuhan warna oranye sehingga memberi kesan dinding batu besar dengan pahatan ornamentalis.</p>
	<p>Sonny dan Ijus punya trik tersendiri untuk menghadirkan efek psikologis di ruangan yang berbentuk bak lorong panjang itu. Sonny dan Ijus meletakkan dinding kayu berukir daun-daun di sepanjang pintu masuk hingga menyerupai lorong misterius.</p>
	<p>Ketika memasuki restoran, pengunjung sesaat akan mengalami tekanan karena berada dalam lorong gelap yang sempit dan langit-langit yang tinggi. Namun, tak berapa lama kemudian, mereka akan disuguhi atraksi benda-benda pajangan yang bersifat eye shocking di bidang lebar. &#8220;Kalau benda-benda tersebut langsung diperlihatkan, tidak ada perjalanan rasa dan tidak ada kejutan,&#8221; papar Sonny.</p>
	<p>Di area lounge, dinding kayu itu juga berfungsi sebagai wall lighting. Di dalam kayu tersebut ada kaca putih susu yang akan memendarkan cahaya dari ukiran-ukiran daunnya. Dinding bercahaya inilah elemen interior yang menunjukkan sentuhan Oriental paling kuat.</p>
	<p>Sisi menarik lainnya adalah figur bunga dalam pahatan gipsum warna oranye terang di sisi area restoran. Terilhami dari bentuk kurva lengkung ala Frank O. Gehry, Sonny mengubahnya menjadi pola bunga dan tumbuhan tempat hinggap para capung.</p>
	<p>Material yang dipakai dalam interior seluruhnya adalah bahan dalam negeri, kecuali meja marmer yang didatangkan dari Italia. Meja komunal kayu menggunakan penyangga berbahan kayu bekas rel kereta api. Begitu pula untuk tempat lampu bagi pencahayaan di sisi area restoran.</p>
	<p>Bisa ditebak, pemakaian bahan tak biasa itu memberi nilai istimewa sekaligus kesan natural yang kuat. Ini disebabkan serat kayu yang ditonjolkan dari bantalan rel kereta api begitu mencolok.</p>
	<p>Hal menarik lain yang bisa dilihat dalam Dragonfly adalah tata cahaya. &#8220;Kami menggunakan konsep pencahayaan tidak langsung,&#8221; kata Sonny. Sejak awal, pencahayaan diniatkan untuk menciptakan efek perasaan yang bertentangan dengan kenyataannya atau ambivalen. &#8220;Ada yang menerangi namun tak terlihat sumber cahayanya,&#8221; Sonny menambahkan.</p>
	<p>Lampu-lampu dalam Dragonfly dibungkus lampion warna jingga. Penempatannya di sudut-sudut ruangan sehingga hanya pendar cahayanya yang terlihat. Dengan langit-langit tanpa plafon dan suasana ruangan yang temaram, pendar cahaya lampu terasa dramatis dengan nuansa senja yang jingga.</p>
	<p>Proses desain yang melahap waktu tiga bulan itu membutuhkan waktu empat bulan dalam pengerjaannya. Bukan proses sederhana, tapi juga tidak bertele-tele. &#8220;Jiwa dinamis sang klien dan keterbukaannya terhadap desain mempermudah proses pengerjaan,'&#8217; ujar Sonny lagi.</p>
	<p>Selain area lounge dan restoran, terdapat pula area privat di sisi kiri bersebelahan dengan area restoran. Ruang privat yang terdiri dari dua bagian terpisah ini masing-masing berkapasitas 10 orang. Namun, jika diperlukan, dapat digunakan untuk 20 orang karena menggunakan sistem penyekat yang fleksibel. Ruang privat serupa terdapat di lantai II.</p>
	<p>Lalu, mengapa memilih Dragonfly? Menurut Kiki, awalnya mereka ingin menggunakan Butterfly sebagai nama restoran. &#8220;Tapi kami merasa kupu-kupu itu identik dengan perempuan, sedangkan dragonfly lebih bisa diterima setiap gender,&#8221; kata Kiki. Bentuknya yang anggun, dengan gerakan yang selalu dinamis pada capung, terasa lebih pas untuk menggambarkan dinamisme kaum metropolis muda saat ini.</p>
	<p>Meskipun dinamakan Dragonfly, jangan harap menemukan simbolisasi capung dalam elemen interior restoran ini. &#8220;Para pengunjung itulah dragonfly-nya,&#8221; ujar Kiki. Dan ia mengibaratkan restorannya sebagai sarangnya.</p>
	<p>Sesuai dengan target pasar, maka &#8216;&#8217;capung-capung'&#8217; tersebut adalah kalangan menengah ke atas yang memiliki jiwa dinamis, karakter sosial yang tinggi, dan keinginan terhadap hal-hal baru. Usai melakukan aktivitas kerja seharian, mereka akan berkumpul di Dragonfly. Bercengkerama, bertukar cerita, buzz&#8230; buzzz&#8230; zzzz.</p>
	<p><em>GATRA Prayojana(Desain) 33 / XI 2 Jul 2005</em><!--more-->
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pitakasari.blogsome.com/2005/12/01/sarang-capung-dari-indocina/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Sekarang Lebih Ngeband</title>
		<link>http://pitakasari.blogsome.com/2005/10/21/sekarang-lebih-ngeband/</link>
		<comments>http://pitakasari.blogsome.com/2005/10/21/sekarang-lebih-ngeband/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Oct 2005 19:07:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ajeng Ritzki Pitakasari</dc:creator>
		
	<category>Artikel</category>
		<guid>http://pitakasari.blogsome.com/2005/10/21/sekarang-lebih-ngeband/</guid>
		<description><![CDATA[	
	
	
    
	
	
	&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-
Club Eighties
Summer &#8216;83
Malta Musik Indonesia
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-
	ABSEN tiga tahun dan salah satu motornya, Sukma Perdana, terjerat narkoba tak membuat Club Eighties berhenti berkarya. Setidaknya, itu dibuktikan lewat album terbaru mereka, &#8220;Summer &#8216;83&#8243;. Album yang bisa dibilang memperlihatkan proses pendewasaan mereka.
	Di album ini, seperti pengakuan Deddy Mahendra Desta (drum), Sukma Perdana Manaf (keyboard/synthesizer), Lembu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<table border="0" cellspacing="1" cellpadding="0" width="90%" align="center">
	<tr>
	<td align="left" valign="left">
<img src="http://www.tembang.com/resensi/images/res_200581511215520215324560.jpg" height="200" border="0" width="200" />    </td>
	</tr>
	</table>
	<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
Club Eighties<br />
Summer &#8216;83<br />
Malta Musik Indonesia<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
	<p>ABSEN tiga tahun dan salah satu motornya, Sukma Perdana, terjerat narkoba tak membuat Club Eighties berhenti berkarya. Setidaknya, itu dibuktikan lewat album terbaru mereka, &#8220;Summer &#8216;83&#8243;. Album yang bisa dibilang memperlihatkan proses pendewasaan mereka.</p>
	<p>Di album ini, seperti pengakuan Deddy Mahendra Desta (drum), Sukma Perdana Manaf (keyboard/synthesizer), Lembu Wiworo Jati (vokal), Vincent Ryan Rompies (bas), dan Cliffton Jesse Rompies (gitar), mereka ingin lebih jujur dalam bermusik. &#8220;Kemampuan kami memang seperti ini. Kenapa nggak dikeluarin aja apa adanya,&#8221; ungkap Vincent.</p>
	<p>Berawal dari pemikiran itu, mereka pun mulai membebaskan diri untuk bermain tanpa beban. &#8220;Cuti&#8221; Iton &#8211;panggilan akrab Sukma Perdana&#8211; selama enam bulan menjadi penyebab lain. Di dua album sebelumnya, Iton adalah programmer sekaligus music director Club Eighties. &#8220;Biasanya aku menciptakan lagu, ketukan drum, hingga pemilihan nada,&#8221; Iton mengaku. Barulah ketika proses itu kelar, giliran Vincent, Desta, Lembu, dan Cliffton. Proses seperti ini dulu diharamkan untuk terendus media.</p>
	<p><a id="more-17"></a>Kini, selain tak malu mengakui kekurangan masa lalunya, penggarapan album ketiga ini pun berubah total. Semua personel terlibat dalam porsi hampir sama. Cliffton membuat lagu, Desta mengisi lirik. Atau, Lembu memulainya dari lirik, sementara personel lain menyumbang lagu.</p>
	<p>Dalam prosesnya, Club Eighties pun tidak lagi memulai dari programming. &#8220;Sekarang kami mulai dengan memainkan alat,&#8221; kata Vincent. Absennya Iton mau tidak mau membuat personel yang lain mempelajari keyboard dan synthesizer. &#8220;Saya jadi sering mengutak-atik synthesizer dan nambahin ke lagu,&#8221; ujar Cliffton, yang paling hirau dalam urusan ini ketimbang yang lain. Walhasil, album ketiga ini boleh dibilang lebih ngeband ketimbang dua album terdahulu.</p>
	<p>Iton bukannya tidak berperan sama sekali. Sebelum absen, ia masih sempat meninggalkan beberapa materi untuk &#8220;Summer &#8216;83&#8243;. Namun, karena Iton tak bisa hadir sebagai pengarah musik, Club Eighties menggandeng Anton Wahyudi (gitaris band Fable), sekaligus sebagai produser album ini.</p>
	<p>Hasilnya terlihat dalam perubahan pola dan nuansa musik yang berbeda-beda dalam &#8220;Summer &#8216;83&#8243;. Simak saja pembuka lagu di awal, Si Om. Lagu yang berdurasi pendek ini bernuansa rancak mengingatkan pada suasana pesta kelab malam tahun 1980-an. Nuansa lain, yang lebih lembut dan mendayu, dihadirkan pada Dari Hati, lagu yang menjadi andalan album ini. Pada Dialah Dia, Mabuk Kepayang, dan Bidadari Kecil, pendengar serasa disuguhi keceriaan ala Hip-Hip Hura-nya Chrisye. Di lagu terakhir, Bintang Sekolah, nuansa disko 1980-an terasa membalut kental.</p>
	<p>Selain selusin lagu tadi, Club Eighties juga menciptakan satu single yang hanya bisa didengar di radio, atau ketika band ini manggung. Single berjudul Tapi Aku Suka Pacarmu, yang cukup laris manis, ini sengaja tak diikutkan dalam album untuk tujuan kampanye anti-pembajakan.</p>
	<p>Namun sayang, musik yang cukup bermain tidak diimbangi dengan permainan lirik. Syair cinta lebih bersifat platonis dan cenderung sederhana. Atau mencoba tema kasih sayang yang lebih universal, seperti dalam Terima Kasih. Mungkin di album keempat, mereka akan lebih memperhatikan aspek satu ini.<!--more-->
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pitakasari.blogsome.com/2005/10/21/sekarang-lebih-ngeband/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
	</channel>
</rss>
