Sarang Capung dari Indocina
|
Sarang Capung dari Indocina
Berawal dari makanan, lalu terwujud dalam desain. Perbandingan panjang lebar menjadi tantangan. Terinspirasi dari analogi lemari kaca.
INILAH sarang capung baru yang hadir di Jakarta, namanya Dragonfly. Sebuah simbolisasi vibrant lifestyle berwujud restoran dengan desain yang serba ‘’wah'’. Restoran berlokasi di lantai dasar Graha BIP, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, ini lahir dari ide para pemilik Ismaya Group yang pada dasarnya hobi makan. Bernuansa kontemporer Asia, tempat makan ini dibuat oleh pemiliknya menjadi restoran berkelas.
“Tujuannya tak hanya sebagai tempat makan, melainkan juga mengakomodasi gaya hidup pengunjungnya,” ungkap Kiki Utara, Manajer PR Dragonfly Restaurant. Konsep makanannya sendiri memang belum banyak dihadirkan restoran lain. Diadaptasi dari wilayah Indocina, khususnya Thailand, Laos, dan Kamboja.
Pengaruh itulah yang dijadikan patokan untuk menyajikan menu andalan mereka, Modern Asian Cuisine. Nuansa interiornya pun tak jauh beda dari konsep makanan, menjelaskan esensi pengaruh Asia dan Dragonfly.
Adalah Sonny Sutanto dan Ijus Julius yang dipercaya mendesain tata ruang Dragonfly. “Yang menarik bagi saya adalah ukuran ruang tersebut yang sangat panjang,” kata Sonny, mengomentari bentuk ruang Dragonfly. Bentuknya segi empat dengan ukuran 48 x 12 meter. Perbandingan panjang dengan lebar yang sangat mencolok ini, bagi Sonny, merupakan tantangan tersendiri.
Sonny dan Ijus pun menganalogkan ruangan itu tak ubahnya lemari kaca tempat menyimpan berbagai benda pajangan. Menggunakan analogi tersebut, Sonny mendatangi klien hanya dengan tiga lembar skematik desain. “Memang cuma tiga lembar, tapi kalau kita serius dari sedikit lembar itu saja, klien sudah tahu kita sungguh-sungguh,” kata Sonny.
Dalam kertas berukuran kuarto itu, Sonny menuangkan idenya tentang benda-benda atraktif dalam lemari pajangan. Komposisi saling kontras mengisi ruangan. Bentuk lengkung dan kurva ditabrakkan dengan bentuk bersiku dan bersudut tajam.
Melihat desain skematis tersebut, sang pemilik restoran pun tertarik. Akhirnya digaraplah lemari pajangan superbesar itu. “Saya putuskan ada tiga benda sebagai pengisi utama,” ungkap Sonny.
Benda pertama adalah grill table yang juga berfungsi sebagai meja bar dengan ukuran sangat panjang. Meja sepanjang 10,3 meter itu tidak jauh beda dengan meja-meja di restoran Ismaya Group lainnya: Blowfish Kitchen and Bar, yang terletak di suite room lantai 29-30, Menara Danamon, Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Dengan meja panjang inilah restoran dalam kelompok Ismaya Group, antara lain, menampilkan kekhasannya. “Orang akan mudah mengingat karena keunikan mejanya,” kata Sonny.
Tidak bisa dimungkiri, desain meja tersebut memang tak biasa. Selain ukurannya yang panjang, letaknya pun miring melintang, tidak tegak lurus di tengah-tengah ruangan. Memberi efek kejut. Ditambah dengan meja-meja berukuran lebih kecil, yang juga miring melintang dengan posisi tak beraturan, membuat meja itu seperti bangunan geometris abstrak. Kursi-kursi diletakkan berderet tidak terpisah. Tujuannya memang menciptakan sebuah meja komunal panjang.
Tak hanya itu. Meja berbahan marmer tersebut memiliki lampu yang ditempatkan di bagian bawah sehingga memberi kesan transparan. Pada malam hari, meja itu menjadi salah satu sumber pencahayaan yang cukup atraktif. Benda pertama ini mengisi area kiri dari arah pintu masuk restoran. Tempat ini juga berfungsi sebagai area lounge dan lunch.
Benda kedua adalah meja panjang yang berada di area restoran. Tapi kali ini meja itu disusun teratur, tak lagi miring melintang. Kursi-kursinya pun diatur terpisah. Bentuknya sengaja dibuat panjang agar senada dengan meja panjang di area lounge.
Benda ketiga adalah rak kayu raksasa tempat menyimpan botol-botol minuman. Deretan minuman ini memang menjadi salah satu daya pikat Restoran Dragonfly, yang memanjakan para penggemar wine, sampanye, dan lain-lain. Rak penyimpan minuman beralkohol ini didesain sedemikian rupa sehingga dapat menyembunyikan area restroom yang berada di dalam rak tersebut.
Menurut perhitungan Sonny Sutanto, rak itu memiliki kapasitas menyangga 5.000 kilogram botol berisi minuman. Namun, apabila semua terisi penuh, beban yang ditopang gedung akan semakin besar. Tapi pihak pengelola lebih memilih tidak mengisi rak kayu setinggi langit-langit restoran tersebut hingga penuh.
Area lounge dan restoran sendiri sebenarnya memiliki pemisah yang sifatnya sangat fleksibel. Pintu berukuran superbesar yang dapat berputar 180 derajat. Pintu yang didesain tanpa kusen ini melekat dari langit-langit hingga dasar lantai. Untuk waktu-waktu tertentu, seperti pada jam-jam makan siang, pintu ini berfungsi memisahkan area lounge dengan restoran.
Pintu pembatas tersebut juga berfungsi sebagai elemen interior. Pintu fiber bercat abu-abu gelap kebiruan itu dihiasi ukiran serangga abstrak. Lekuk-lekuknya diberi sentuhan warna oranye sehingga memberi kesan dinding batu besar dengan pahatan ornamentalis.
Sonny dan Ijus punya trik tersendiri untuk menghadirkan efek psikologis di ruangan yang berbentuk bak lorong panjang itu. Sonny dan Ijus meletakkan dinding kayu berukir daun-daun di sepanjang pintu masuk hingga menyerupai lorong misterius.
Ketika memasuki restoran, pengunjung sesaat akan mengalami tekanan karena berada dalam lorong gelap yang sempit dan langit-langit yang tinggi. Namun, tak berapa lama kemudian, mereka akan disuguhi atraksi benda-benda pajangan yang bersifat eye shocking di bidang lebar. “Kalau benda-benda tersebut langsung diperlihatkan, tidak ada perjalanan rasa dan tidak ada kejutan,” papar Sonny.
Di area lounge, dinding kayu itu juga berfungsi sebagai wall lighting. Di dalam kayu tersebut ada kaca putih susu yang akan memendarkan cahaya dari ukiran-ukiran daunnya. Dinding bercahaya inilah elemen interior yang menunjukkan sentuhan Oriental paling kuat.
Sisi menarik lainnya adalah figur bunga dalam pahatan gipsum warna oranye terang di sisi area restoran. Terilhami dari bentuk kurva lengkung ala Frank O. Gehry, Sonny mengubahnya menjadi pola bunga dan tumbuhan tempat hinggap para capung.
Material yang dipakai dalam interior seluruhnya adalah bahan dalam negeri, kecuali meja marmer yang didatangkan dari Italia. Meja komunal kayu menggunakan penyangga berbahan kayu bekas rel kereta api. Begitu pula untuk tempat lampu bagi pencahayaan di sisi area restoran.
Bisa ditebak, pemakaian bahan tak biasa itu memberi nilai istimewa sekaligus kesan natural yang kuat. Ini disebabkan serat kayu yang ditonjolkan dari bantalan rel kereta api begitu mencolok.
Hal menarik lain yang bisa dilihat dalam Dragonfly adalah tata cahaya. “Kami menggunakan konsep pencahayaan tidak langsung,” kata Sonny. Sejak awal, pencahayaan diniatkan untuk menciptakan efek perasaan yang bertentangan dengan kenyataannya atau ambivalen. “Ada yang menerangi namun tak terlihat sumber cahayanya,” Sonny menambahkan.
Lampu-lampu dalam Dragonfly dibungkus lampion warna jingga. Penempatannya di sudut-sudut ruangan sehingga hanya pendar cahayanya yang terlihat. Dengan langit-langit tanpa plafon dan suasana ruangan yang temaram, pendar cahaya lampu terasa dramatis dengan nuansa senja yang jingga.
Proses desain yang melahap waktu tiga bulan itu membutuhkan waktu empat bulan dalam pengerjaannya. Bukan proses sederhana, tapi juga tidak bertele-tele. “Jiwa dinamis sang klien dan keterbukaannya terhadap desain mempermudah proses pengerjaan,'’ ujar Sonny lagi.
Selain area lounge dan restoran, terdapat pula area privat di sisi kiri bersebelahan dengan area restoran. Ruang privat yang terdiri dari dua bagian terpisah ini masing-masing berkapasitas 10 orang. Namun, jika diperlukan, dapat digunakan untuk 20 orang karena menggunakan sistem penyekat yang fleksibel. Ruang privat serupa terdapat di lantai II.
Lalu, mengapa memilih Dragonfly? Menurut Kiki, awalnya mereka ingin menggunakan Butterfly sebagai nama restoran. “Tapi kami merasa kupu-kupu itu identik dengan perempuan, sedangkan dragonfly lebih bisa diterima setiap gender,” kata Kiki. Bentuknya yang anggun, dengan gerakan yang selalu dinamis pada capung, terasa lebih pas untuk menggambarkan dinamisme kaum metropolis muda saat ini.
Meskipun dinamakan Dragonfly, jangan harap menemukan simbolisasi capung dalam elemen interior restoran ini. “Para pengunjung itulah dragonfly-nya,” ujar Kiki. Dan ia mengibaratkan restorannya sebagai sarangnya.
Sesuai dengan target pasar, maka ‘’capung-capung'’ tersebut adalah kalangan menengah ke atas yang memiliki jiwa dinamis, karakter sosial yang tinggi, dan keinginan terhadap hal-hal baru. Usai melakukan aktivitas kerja seharian, mereka akan berkumpul di Dragonfly. Bercengkerama, bertukar cerita, buzz… buzzz… zzzz.
GATRA Prayojana(Desain) 33 / XI 2 Jul 2005
About