Ikon Baru di Puncak Kota


Hunian bertingkat supermewah menjulang di pusat bisnis Sudirman. Bakal menjadi ikon baru Jakarta. Menggunakan teknologi konstruksi corewall generasi ketiga

MENDENGAR kata The Peak, benak kita seperti dituntun untuk membayangkan puncak gunung yang menjulang tinggi. Namun The Peak kali ini sama sekali tak ada hubungannya dengan gunung, meski tetap berukuran tinggi. Ini adalah nama sebuah apartemen baru yang dibangun dikawasan bisnis Sudirman, Jakarta, tepatnya di Jalan Setiabudi, belakang Hotel Four Season atau berseberangan dengan Mid Plaza. The Peak, A Beaufort Residence, begitulah nama kompleks apartemen yang dikelola oleh The Beaufort International Group Hotel Chain itu.

Melihat letaknya yang strategis, bisa ditebak bahwa kompleks hunian ini memiliki fasilitas lengkap dan mahal. Apartemen yang berjumlah 462 unit ini memang tergolong mewah. Ini sesuai dengan niat pengembang, PT Graha Tunasmekar dari Grup Agung Podomoro, untuk menciptakan hunian eksklusif. “Pasar yang kami bidik memang segmen kelas atas,” ungkap Very Y. Setiady, Direktur Eksekutif The Peak Sudirman.

Very menyadari, pangsa pasar ini memang cukup kecil di Jakarta. “Tapi tetap ada,” ujarnya yakin. Mengingat tipe pasar yang tersegmen dengan pola hidup spesifik ini, pihaknya tidak main-main dalam mendesain apartemen. “Dengan ketinggiannya, kami ingin apartemen ini menjadi ikon baru bagi kota Jakarta.” Very menambahkan.

Ikon itu diharapkan mewakili identitas penghuninya. Di dalam ikon itu, nanti penghuni mendapat fasilitas hotel bintang lima. Sebuah proyek yang ambisius. Demi mewujudkan ambisi tersebut, Graha Tunasmekar tak tanggung-tanggung. Beberapa konsultan kelas dunia digandeng dalam penggarapan proyek ini.

Ada tiga konsultan desain utama, yaitu DP Architecs Pte Ltd dari Singapura yang pernah mengarsiteki Wisma BNI 46 dan PT Airmas Asri sebagai arsitek, HBA/Hirsch Bedner Associates Pte Ltd sebagai konsultan interior, PT Davy Sukamta & Partners untuk konsultan rancangan struktur, dan PT Arnana Pratama & PT Asdi Swasatya Joint Operation sebagai konsultan mekanikal elektrik dan sistem plumbing.

Selain konsultan utama itu, pembangunan The Peak juga melibatkan beberapa konsultan spesialis, antara lain Belt Collins International sebagai konsultan lanskap dan Bo Steiber Lighting Design untuk tata cahaya. Bahkan untuk fasade, The Peak menggunakan konsultan Arup Singapore perwakilan Asia yang bermarkas di Inggris. Konsultan terakhir ini dulu menggarap fasade untuk bangunan Petronas Tower, Kuala Lumpur.

Perlukah sampai seperti itu? “Bagaimana menarik pelanggan kelas atas yang sangat terbatas itu jika tidak menawarkan kualitas terbaik,” ujar Very. Dengan konsultan yang spesifik itu, Very berani mengklaim bahwa apartemennya adalah apartemen pertama di Indonesia yang dibangun dengan teknologi terbaru.

Konsep desain yang digunakan oleh DP Architecs adalah gedung metropolitan modern. Bakal ikon baru kota Jakarta ini tampil dengan karakter dua menara kembar yang diharapkan tak lekang oleh zaman. Sebuah ketinggian spektakuler dalam bentuk simetri.

Nantinya, desain apartemen terdiri dari empat menara. Dua menara 35 lantai yang dinamai Regency dan Regal menghadap selatan. Sedangkan dua menara tertinggi masing-masing 215 meter dengan 55 lantai bernama Regis dan Renais menghadap utara. Menara ini didesain untuk menimbulkan presepsi manusia tentang kemegahan.

DP Architecs membagi desain Apartemen The Peak dalam tiga komposisi. Pertama, lay out atau ground area sebagai mata air hijau, laiknya sebuah pulau peristirahatan di tengah hiruk-pikuk dan keruwetan kota Jakarta. Kedua, menara adalah komposisi dari ekspresi linear dan kesederhanaan vertikalitas, dan terakhir puncaknya (Crown) adalah komposisi yang menunjukkan identitas atau ciri khas bangunan ini.

Konsep arsitektur modern dalam nuansa tropis itu juga tertuang dalam desain interior. Desain cenderung simpel dengan garis-garis yang bersih dari unsur dekoratif. Meskipun demikian, itu tidak mengurangi kesan hangat khas tropis, terlebih dengan pemilihan warna-warna tanah, merah kecokelatan.

“Kami mengakomodasi klien yang sudah sangat mapan. Kalau terlalu minimalis, tidak sesuai dengan jiwa mereka” papar Very. Toh, tersedia pula interior dengan desain bergaris lebih simpel dan lugas, untuk mengakomodasi pasangan muda yang lebih dinamis.

Selain bentuk dan tampilannya, yang menarik dari apartemen ini adalah pada sistem konstruksinya. Digarap oleh ahli struktur Davy Sukamta, gedung ini menggunakan konsep bangunan tinggi generasi ketiga. Generasi ketiga adalah tipe bangunan di mana gedung tinggi bisa berbentuk langsing namun tetap kaku.

Dalam sejarah bangunan tinggi, gedung tinggi biasanya memiliki volume besar. Misalnya Empire State Building di Manhattan, New York, salah satu bangunan tinggi generasi pertama yang berbadan bongsor. Untuk mendapatkan kekakuan, bangunan itu memerlukan kolom-kolom berukuran besar.

Salah satu penyebab munculnya generasi ketiga adalah untuk efisiensi bangunan seperti yang ingin pula dicapai oleh The Peak. Kelebihan hunian tinggi ada pada keluasan pemandangannya. Untuk mencapai ini, setiap ruangan harus memiliki jendela, dan volume bangunan tidak boleh terlalu besar agar diperoleh bukaan di setiap sisi.

Dengan konsep itu, arsitek The Peak mendesain bangunan dengan kelangsingan 1: 8. Skala ini didapat dari perbandingan lebar gedung dengan tinggi gedung. Dengan ketinggian 215 meter, lebar The Peak hanya kurang lebih 27 meter.

Menurut Davy Sukamta, dengan perbandingan tinggi dan lebar seperti itu, gedung akan rentan bergoyang. Menurut ahli konstruksi tamatan Universitas Parahyangan, Bandung, itu, setiap kali merancang bangunan tinggi, yang dipikir adalah gedung harus kuat terhadap gaya gravitasi, gempa, dan angin. “Namun, kalau sudah setinggi ini, ada beberapa faktor yang dipertimbangkan. Sebab, semakin tinggi, maka kemungkinan bergoyangnya lebih besar,” kata Davy.

Tapi gedung bergoyang bukan berarti tidak kuat. Seperti cemara yang tertiup angin, tak lantas membuatnya roboh, tetapi tetap saja meliuk. Begitu pula gedung tinggi. Goyangan itu, menurut Davy, terjadi karena masalah stiffness atau kekakuan. “Meski kuat, kalau goyang, kan tetap membuat penghuni takut,'’ kata Davy, yang juga menjabat sebagai Ketua Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia. Padahal, selain kekokohan, unsur kenyamanan dan keamanan adalah hal yang tak bisa diabaikan.

Selain itu, kekakuan juga diperlukan untuk menjaga integritas materi bangunan. Sebab, meski tetap berdiri kokoh ketika bergoyang, material seperti kaca yang menempel bisa saja terlepas. “Masak kita membangun gedung bagus-bagus, tapi kalau goyang, kacanya copot. Kaca setebal itu nggak cuma bisa melukai, melainkan juga mematikan,” ujarnya.

Sebuah kasus menggelikan pernah terjadi di Boston, Amerika Serikat. Sebuah gedung setinggi 60 lantai bergoyang ketika ditiup angin. Kaca-kacanya rontok. Kejadian ini terus berulang, setelah kaca-kaca diganti. Pemilik gedung kemudian mengganti kaca-kaca tersebut dengan kayu lapis. Keesokan harinya, koran-koran memunculkan foto gedung itu dengan judul: “Inilah Gedung Kayu Tertinggi di Dunia”.

Masalah kekakuan saat ini masih jarang diperhatikan di Indonesia, meski sudah jamak di dunia konstruksi. Untuk mengatasi problem kekakuan ini, Davy menerapkan sistem konstruksi corewall dan sistem outrigger. Corewall sendiri bukan barang baru. Ini struktur inti gedung tingkat tinggi berupa dinding beton dengan ketebalan tertentu dan berfungsi mengikat lantai.

Sedangkan outrigger adalah struktur pengaku tadi. Berupa lengan yang terikat pada corewall hingga kolom terluar bangunan. Prinsipnya seperti perahu layar. Tiang layar adalah intinya, kemudian balok-balok silang dan layarnya adalah outrigger-nya. Sedangkan tali-tali layar yang diikatkan pada pasak adalah kolom outrigger-nya. Dengan kata lain, sistem ini memanfaatkan lebar bangunan untuk memaksimalkan kekakuan.

Sistem struktur semacam itu sebenarnya diterapkan sejak 1970. Pertama kali dengan baja. Baru pada 1990-an ditemukan sistem struktur semacam itu dengan menggunakan lengan beton. Di Indonesia, The Peak adalah salah satu dari dua bangunan dengan sistem konstruksi ini, dan dua-duanya adalah garapan Davy Sukamta.

The Peak memiliki tiga outrigger yang diletakkan di lantai 10 sampai lantai 12, lantai 21 hingga lantai 23, dan lantai 32 sampai lantai 34. Mengupayakan kekakuan dengan tiga outrigger dalam desain struktur ini bukannya tanpa perhitungan.

Untuk memperoleh perhitungan kekuatan angin, dilakukan simulasi wind tunnel atau terowongan angin. Aparteman dibentuk dalam maket berskala 1: 50 terbuat dari dua materi, kayu balsa dan flexiglass. Dalam satu terowongan diembuskan angin ke model bangunan dengan kecepatan yang disesuaikan dengan kondisi setempat.

Kekuatan angin yang digunakan Davy berdasarkan data rekaman angin Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, selama 20 tahun. Setelah dianalisis secara statistik, ditentukan angin lima tahunan, angin 10 tahunan, dan angin 500 tahunan.

Akhirnya, dari simulasi itu diperoleh hasil bahwa The Peak harus memiliki kekakuan untuk menahan angin 10 tahunan. Mengapa? Sebab hasil akselerasi di langit puncak setelah dikenai angin 10 tahunan, hasilnya menunjukkan 9,6 miligravitasi (mg).

Batas maksimum internasional yang ditetapkan untuk hunian adalah 15 mg. “Untuk hunian sangat ketat di angka ini,” ujar Davy. Kalau di perkantoran orang sudah merasa pusing bekerja di gedung dengan akselerasi 15 mg, maka ia bisa pulang. “Kalau di rumah pun merasa pusing, lantas mau pulang ke mana,” Davy bercanda.

Sementara untuk kekuatan material bahan, digunakan angin 100 tahunan. Ukuran angin 100 tahunan sendiri adalah 40 meter per detik. Dengan kata lain, apartemen ini dirancang untuk mampu menahan gaya yang ditimbulkan angin berkecepatan 144.000 kilometer per jam.

Pengujian tersebut dilakukan di laboratorium terowongan angin Kanada, yang terletak di kota Western Ontario. Dalam rangka pengujian, pengembang bekerja sama dengan konsultan Kanada, Rowan Williams Davies and Irwin. Simulasi itu makan waktu tiga bulan.

Davy cukup memberikan data-data tentang kecepatan angin, iklim, desain, dan segala persyaratannya. Sehingga, setelah uji dilakukan, yang dikirim adalah hasil simulasi tersebut yang langsung diterapkan pada bangunan.

Gedung pun dirancang untuk menahan gempa 500 tahunan berdasarkan peraturan gempa Indonesia. Beton yang digunakan juga memiliki kualitas tinggi, 55 mpa (mega-pascal). Setiap satu sentimeter kubik mampu menahan gaya dari 550 kilogram beban.

Untuk menghasilkan bangunan dengan tingkat kerumitan cukup tinggi itu, Davy mengaku telah mengupayakan kemampuan terbaiknya. Karena itu, ia tidak mengenal sisitem pemenang tender berdasar harga termurah untuk mendapatkan proyek. “Saya bisa memberi pelayanan seperti ini jika harganya sesuai. Kalau memang tidak ingin, silakan,” katanya.

Desain terintegrasi itulah yang kemudian disodorkan oleh Apartemen The Peak kepada konsumennya. Dengan kualitas di setiap lini, mulai arsitektur, konstruksi, fasade, lanskap, tata cahaya, dan detail lainnya, pengembang pun berani mematok harga selangit untuk setiap unitnya.

Untuk unit terkecil seluas 112 meter persegi, pembeli mesti merogoh kocek sebesar Rp 1,2 milyar. Sedangkan untuk menikmati pemandangan kota 360 derajat di penthouse seluas 418 meter persegi, pembeli mesti bersedia mengeluarkan duit sebesar Rp 8 milyar! “Pasar kami memang tipis, tapi saat ini sudah 85% unit yang diinden pembeli, termasuk penthouse,” ungkap Very mantap.

Saat ini, pembangunan apartemen sudah mencapai tahap penyelesaian konstruksi. Pada menara 35 lantai, konstruksi telah selesai. Pemasangan atap (topping) untuk menara kembarnya ditargetkan selesai sebelum Lebaran. Sementara penyelesaian seluruh konstruksi beton dijadwalkan kelar hingga akhir tahun ini. Seluruh proyek ini, hingga penyelesaian akhir, diharapkan rampung pada akhir 2006.

Gatra, Prayojana (desain) 46 / XI 1 Okt 2005

The URI to TrackBack this entry is:
http://pitakasari.blogsome.com/2005/12/01/ikon-baru-di-puncak-kota-2/trackback/

Responses to Ikon Baru di Puncak Kota
  1. Gravatar Image

    mimi said:

    hayo hayoo… apdet lagi blog nya :)

    46 days after the fact.
  2. Gravatar Image

    Erlan said:

    Kami menangani Spesialist Maket : bermacam2x maket pernah kami buat dari Apartemen, Dam, rumah, pabrik, kawasan, dll.
    Hubungi : parasdesain, telp. 021-86606357 / 08164807510

    145 days after the fact.
  3. Gravatar Image

    shena harada said:

    boleh ga artikel ini gw jadiin referensi????thx bgt ya… ada input dikit ke otak gw, lumayan nambah2 ide…thx ya….!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    -sky-

    Boleh silahkan saja, asalkan tetap memperhatikan kode etik hak cipta kalau untuk keperluan komersial, tetapi kalo untuk pribadi monggo-monggo wae…

    309 days after the fact.
  4. Gravatar Image

    hendry said:

    boleh ga dijelasin dikit cara2 perhitungan utk kolom langsing dengan struktur sederhana pada portal bergoyang dan tidak bergoyang. referensi tersebut dapat saya gunakan dalam penyusunan tugas akhir. thanx

    366 days after the fact.
  5. Gravatar Image

    Jimmy said:

    Bisa gak tunjukin site layout nya?? Lagi butuh referensi neh… Thx bngt…

    kalau butuh Lay out The Peak, coba beli Majalah Indoenesia Architecture (I-ARCH) edisi ke-7. Tema besarnya Skyscrapers, jadi nanti ga cuma the peak tetapi juga lay out beberapa contoh gedung tinggi di Indonesia yang sudah terbangun maupun yang sedang dalam status on progress.

    500 days after the fact.

Leave a Reply