Eksperimen Kawin Campur

Meski pasarnya kecil, sekelompok anak muda nekat mengusung genre Jamaican music. Kuat di konsep.

——————————
Souljah
Breaking The Roots
The Off Beat Records
——————————

WALAU mengusung genre Jamaican music, yang salah satu akarnya reggae, personel Souljah jauh dari atribut itu. Bayu Pamungkas (gitar), Renhat Silitonga (bas), Dimas Agung Hidayat (drum), Danar Pramesti (vokal), Said Fauzan (rap/toasting), dan David Agust Pasaribu (trumpet dan keyboard) seperti anggota band pop saja. Kalaupun ada, paling hanya gelang, syal, atau emblem warna merah hijau kuning. Namun jangan tanya pengetahuan mereka tentang Jamaican music. Dengan fasih mereka akan menerangkan satu per satu cabang aliran itu, lengkap dengan band yang memopulerkannya.

Souljah (disadur dari cara orang Jamaika melafalkan kata soldier) didirikan pada 1998 oleh sekelompok anak muda yang bekerja di bidang periklanan. Semula band ini diberi nama Arigato, dengan “keahlian” membawakan lagu milik Save Ferris dan No Doubt. Arigato ikut ambil bagian dalam “Kompilasi Ska Mania” keluaran Sony Music pada 1999. Empat tahun kemudian, Arigato kembali ikut dalam album kompilasi di bawah bendera Label Jepang Authority Record bersama Shaggy Dog, Tipe Ex, dan Alaska.

Menyandang nama Arigato, band itu kerap disangka mengusung aliran J-rock (Japanese rock). Inilah salah satu alasan mengapa mereka lantas mengubah nama menjadi Souljah. Tak hanya sampai di situ, mereka pun sepakat membuat album perdana dengan nama itu. Maka, lahirlah “Breaking The Roots”. Seperti judulnya, Souljah tak melulu menciptakan lagu dalam balutan Jamaican music. Sebaliknya, mereka bereksperimen, mencoba menggabungkan “sang akar” ke dalam beragam jenis aliran musik.

Misalnya dalam Lelaki Itu. Di sini Souljah mencoba mencampurnya dengan irama keroncong. Souljah menganggap musik ini adalah musik asli Indonesia, yang sepertinya hampir punah. “Padahal, keroncong itu indah untuk dinikmati,” ujar Renhat. Tak mau tanggung, Souljah mengajak Sundari Sukotjo, penyanyi keroncong senior, untuk berkolaborasi.

Untuk sampai memahami jiwa keroncong, Renhat setia membolak-balik kaset Sundari selama dua minggu. Bahkan mereka rela menuruti saran Sundari untuk mengikuti seminar tentang musik keroncong. Setelah dirasa cukup, Sundari pun dibawa ke studio rekaman. Kendala utama yang dialami Souljah dan Sundari ialah perbedaan tempo di antara kedua aliran tersebut. Namun keduanya sepakat membiarkan perbedaan itu menjadi bagian dari keunikan lagu tersebut.

Di lagu Magenta, Souljah kembali melakukan eksperimen dengan menggunakan suara Happy Salma sebagai pengganti solo saksofon. Pemilihan Happy bukan tanpa alasan, sebab tujuan yang diinginkan adalah menampilkan kesan seksi, yang semula diharapkan dari suara saksofon. Walaupun akhirnya persepsi visual lebih kuat ketimbang persepsi audio, Magenta tetap kena juga di kuping pendengar.

Eksperimen lain bisa didengar dalam The Day The World Turn Into Grey. Lagu ini memiliki nuansa dub sangat kuat. Tak lain karena Souljah lebih menekankan kekuatan suara bas ketika mixing. Kesan abu-abu nan suram itu makin kuat berkat keikutsertaan Bad Mono dalam lagu ini.

Penyusunan lagu ringan dan lagu bermateri berat cukup cermat dalam album ini. Souljah membagi lagu dengan side A cenderung ringan dan lagu bermateri berat di side B. Sebenarnya cara semacam ini pun sudah kerap dilakukan oleh musikus atau grup-grup musik Jamaica dengan aliran Dub. Alasan utama yang sebenarnya adalah ekonomis.

Dipioniri Ousbourne Ruddock pada akhir 1960-an cara ini memungkinkan untuk merekam dan menghasilkan berbagai macam versi dari satu kali proses rekaman di studio. Banyaknya versi sekaligus merupakan kesempatan bagi produser atau remix engineer melakukan eksperimen dan membebaskan sisi kreativitas yang lain. Side A diisi untuk mencetak hit yang popular dan side B untuk sisi eksperimen dan ruang bagi DJ atau toasting/rapper untuk lebih banyak mengoceh

Sebagai sebuah album, konsep yang ditawarkan Souljah dalam “Breaking The Roots” layak diacungi jempol. Souljah berhasil membawa persepsi baru atas aliran Jamaican music. Konsep matang yang ditawarkan Souljah terbukti mampu meyakinkan sejumlah musisi untuk ikut ambil bagian. Di album ini, selain Sundari, Happy, dan Bad Mono, ada juga Hendrix Rastafara, Soulid, dan Popok.

Di luar semua itu, yang patut dikedepankan ialah semangat dan keberanian personel Souljah menerabas rimba industri musik kita. Pasalnya, Jamaican music kurang mendapat tempat di telinga konsumen. Kalaupun ada, jumlahnya sangat sedikit. Aliran macam ini kebanyakan hanya bersemi di komunitas dan tempat tertentu macam kafe.

Personel Souljah sebenarnya bisa hidup enak dengan tetap pada bidang pekerjaan mereka dulu. Namun kecintaan pada musik merah kuning hijau ini membuat mereka merelakan kemewahan tadi. Layaknya memulai sebuah usaha baru, seluruh personel Souljah terlibat dalam proses produksi album ini. Talenta yang biasanya disalurkan untuk produk-produk klien kini diarahkan untuk sampul album. Kemampuan manajerial mereka dituangkan dalam pengelolaan The Off Beat Records, label yang memayungi Souljah.

The URI to TrackBack this entry is:
http://pitakasari.blogsome.com/2005/10/20/eksperimen-kawin-campur/trackback/

Responses to Eksperimen Kawin Campur
  1. Gravatar Image

    nya nyu said:

    saLuut bwt souljah…
    sumpe keren bgt!!! pertama kali gw knl souljah tu dar co gw yg mang jamaicas away.
    although now i’m not with him but i still luv souljah hehe..
    nanya dunk..koq susye bgt ya nyari kaset’n souljah??? mang dah gda stok lg?
    album yg br jg lom kluar di pasaran ya……..
    thx

    emang cari kaset Souljah itu susah, karena setahu saya mereka hanya produksi CD. Itu pun kalau ga salah per produksi mereka hanya cetak 1000 -5000 keping. Carinya juga mesti kontak mereka langsung karena jualannya bergerilya ala indie label. Berminat? nanti aku coba cari kontaknya

    540 days after the fact.

Leave a Reply