Sebelas Gambar Tanpa Sponsor
Teater Tanah Air mengukir prestasi di festival teater anak-anak Asia Pasifik. Mengusung Teater Seni Rupa. Di sini kurang diapresiasi.
HUJAN pujian di negeri orang, kemarau perhatian di negeri sendiri. Begitulah “takdir” yang harus ditanggungkan Teater Tanah Air, pimpinan Jose Rizal Manua, 50 tahun. Saat mereka mementaskan “Bumi di Tangan Anak-anak”, di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, 23-24 Desember 2004 lalu, tak ada satu sponsor pun –baik swasta maupun pemerintah– yang mendanai pertunjukan itu.
Jose berencana memboyong lakon ini ke Bandung, Yogyakarta, Solo, Surabaya, dan Denpansar. “Tapi kami tidak akan mampu jika harus menanggung sendiri ongkosnya,” kata pria yang memulai karir teaternya pada era 1970-an ini.
Lakon ini sempat mendapat aplaus ribuan penonton yang menjejali Toyamaken Takaoka Bunka Hall, Toyama, Jepang, pada 5 Agustus 2004 lalu. Menjelang akhir pementasan, banyak penonton yang naik panggung dan ikut “bermain” bersama aktor-aktor cilik Teater Tanah Air. “Ketika pementasan berakhir, para penonton itu belum mau juga turun dari panggung,” kata Jose.
Panitia festival menganugerahi kelompok yang didirikan Jose pada 14 September 1988 ini penghargaan best performance. Beberapa peserta yang juga mengikuti festival tersebut, seperti Italia, Jerman, dan India, mengundang Jose dan rombongan untuk pentas di negara mereka.
Eh, siapa sangka, “hujan emas” itu tak berlanjut di negeri sendiri. Sepulang dari Jepang, Jose dan anggota rombongannya cuma bisa menjejakkan kaki di tanah dengan menelan air liur: tidak ada sambutan untuk mereka, apalagi kadeudeuh berupa perhatian dari pemerintah. “Saya tidak menginginkan apa-apa, tapi tentunya anak-anak akan sangat senang kalau diapresiasi oleh presidennya,” ujar suami dari Nunum Raraswati, 42 tahun, ini.
Naskah “Bumi di Tangan Anak-anak” dikerjakan penyair dan pelukis Danarto selama tiga bulan. Saat diberitahu “ordernya” sudah selesai, Jose sempat terhenyak. Naskah Danarto itu tidak memuat sepatah kata atau –bahkan– sepotong huruf pun. Isinya cuma 11 buah gambar. “Ya, itu naskahnya,” Jose menirukan jawaban Danarto atas keheranannya ketika itu.
Naskah yang eksentrik untuk ukuran lakon teater sebetulnya dibuat Danarto dengan memenuhi “rambu-rambu” yang dikehendaki Jose. Saat kelompok Teater Tanah Air yang dipimpinnya menerima undangan untuk tampil dalam “Asia Pacific Festival of Children’s Theatre”, 1-6 Agustus 2004, di Toyama, Jepang, Jose sudah menetapkan menghindari konsep pertunjukan bergaya opera yang banyak menggunakan bahasa verbal dan dialog-dialog panjang.
Dalam benak pria kelahiran Padang, 14 September 1954, ini, festival tersebut akan banyak dikunjungi penonton dari berbagai negara. Oleh karena itu, ia lebih sreg jika para aktor cilik tidak berdialog dalam bahasa Indonesia seperti biasanya, melainkan lebih menggunakan bahasa gerak dan ekspresi wajah, “Sifatnya jadi lebih universal,” ujar ayah lima anak ini.
Danarto menginterpretasikan konsep Jose ke dalam 11 gambar. Figur anak-anak, binatang, tumbuhan, bumi, langit, serta perangai baik dan buruk dikemas dalam pendekatan rupa yang banal dan warna-warna ceria. Goresan gambar Danarto itu, mewakili sudut pandang kanak-kanak yang begitu sederhana dan “hitam-putih” saat bermain dalam sebuah proses kehidupan di muka bumi.
Setelah enam bulan gambar-gambar itu diolah, lahirlah sebuah cerita yang diberi judul “Bumi di Tangan Anak-anak”. Lakon ini sederhananya bertutur tentang persahabatan antara anak-anak dan alam. Tentang pergaulan mereka dengan langit, bumi ,angin, tanah, udara, binatang, dan tumbuhan. Juga tentang “keanehan” orang dewasa yang suka merusak dan menghilangkan keceriaan mereka.
Jose dan Danarto menyebut pertunjukan ini sebagai “teater seni rupa”. Selain lahir dari sebuah konsep rupa –yang dengan sendirinya memunculkan banyak idiom seni rupa pada kostum dan penataan artistik– di dalam lakon ini tidak terdapat alur cerita mengikat namun lugas memunculkan rangkaian eksplorasi gerak dan ekspresi para aktor cilik yang memancing imajinasi penonton.
Kapasitas Jose sebagai penggerak teater anak-anak dimulai jauh sebelum “Teater Tanah Air” berdiri. Tahun 1975, selepas pendidikan nonformalnya bersama Teater Wijaya Kesuma pimpinan almarhum Rendra Karno, Jose bersama sejumlah pelaku teater lainnya mendirikan Teater Adinda. Kelompok teater yang mengandalkan para aktor berusia 7-14 tahun ini tercatat –secara berturut-turut– sebagai jawara dalam festival teater anak-anak se-DKI mulai 1978 hingga 1981.
Jose juga aktif sebagai sutradara Teater Legenda, yang sering nongol dalam program sandiwara anak di TVRI pada kisaran tahun 1983-1986. Setelah beberapa persoalan internal muncul, Jose hengkang dari Teater Adinda pada 1988. Ia mendirikan Teater Tanah Air yang masih bertahan –dengan irama kembang-kempis– sampai sekarang.
Sejarah keterlibatannya yang begitu panjang dalam teater anak-anak membuat seniman yang sempat bergabung dengan “Bengkel Teater” kepunyaan Rendra ini sangat fasih memahami karakter keaktoran seorang anak. “Karena terbiasa, saya tahu apabila anak-anak tersebut mulai terlihat bosan atau jenuh,” paparnya.
Tapi, Jose mengaku dirinya tidak pernah membiarkan anak didiknya bosan atau jenuh berlatih teater. Dunia anak-anak, dalam pandangan alumnus Jurusan Penyutradaraan Teater IKJ ini adalah dunia bermain yang tidak perlu dibebani dengan target-target yang menggiring mereka menjadi sesuatu.”Yang saya lakukan setiap saat dengan mereka adalah bermain,” staf pengajar di Departemen Teater IKJ ini menambahkan.
Bermain –kemudian– menjadi metode yang dipakai oleh Jose untuk mengasah kemampuan anak-anak binaanya dalam mengemukakan ekspresi terjujur mereka. Untuk itu, Jose tak pernah menyuruh anak-anak tersebut berakting. “Memberikan contoh akting pada anak-anak adalah hal yang tabu bagi saya,” Jose menegaskan.
Dalam pengamatan seniman yang juga pernah bermain bersama Teater Mandiri dan Teater Populer ini, banyak perilaku dan hal-hal tidak terduga muncul ketika anak-anak bermain. Tanpa disadari, saat itu mereka sudah berakting. Untuk menyelaraskan kemampuan akting yang muncul secara alamiah itu, sebagai sutradara Jose tinggal memancing imajinasi mereka. “Dalam imajinasi anak-anak, tidak ada perihal yang tidak mungkin,” ia memaparkan.
Jose menyebutkan adegan dinosaurus dikalahkan oleh kuda lumping dalam “Bumi di Tangan Anak-anak”, sebagai contoh yang niscaya itu. Jangan-jangan, Jose harus benar-benar menjadi anak-anak –secara fisik, mental, dan usia– agar “imajinasi” tentang dukungan pemerintah dan swasta terhadap kelompok teaternya, dapat terwujud
About