Sekarang Lebih Ngeband

————————-
Club Eighties
Summer ‘83
Malta Musik Indonesia
————————-

ABSEN tiga tahun dan salah satu motornya, Sukma Perdana, terjerat narkoba tak membuat Club Eighties berhenti berkarya. Setidaknya, itu dibuktikan lewat album terbaru mereka, “Summer ‘83″. Album yang bisa dibilang memperlihatkan proses pendewasaan mereka.

Di album ini, seperti pengakuan Deddy Mahendra Desta (drum), Sukma Perdana Manaf (keyboard/synthesizer), Lembu Wiworo Jati (vokal), Vincent Ryan Rompies (bas), dan Cliffton Jesse Rompies (gitar), mereka ingin lebih jujur dalam bermusik. “Kemampuan kami memang seperti ini. Kenapa nggak dikeluarin aja apa adanya,” ungkap Vincent.

Berawal dari pemikiran itu, mereka pun mulai membebaskan diri untuk bermain tanpa beban. “Cuti” Iton –panggilan akrab Sukma Perdana– selama enam bulan menjadi penyebab lain. Di dua album sebelumnya, Iton adalah programmer sekaligus music director Club Eighties. “Biasanya aku menciptakan lagu, ketukan drum, hingga pemilihan nada,” Iton mengaku. Barulah ketika proses itu kelar, giliran Vincent, Desta, Lembu, dan Cliffton. Proses seperti ini dulu diharamkan untuk terendus media.

Read More »

Eksperimen Kawin Campur

Meski pasarnya kecil, sekelompok anak muda nekat mengusung genre Jamaican music. Kuat di konsep.

——————————
Souljah
Breaking The Roots
The Off Beat Records
——————————

WALAU mengusung genre Jamaican music, yang salah satu akarnya reggae, personel Souljah jauh dari atribut itu. Bayu Pamungkas (gitar), Renhat Silitonga (bas), Dimas Agung Hidayat (drum), Danar Pramesti (vokal), Said Fauzan (rap/toasting), dan David Agust Pasaribu (trumpet dan keyboard) seperti anggota band pop saja. Kalaupun ada, paling hanya gelang, syal, atau emblem warna merah hijau kuning. Namun jangan tanya pengetahuan mereka tentang Jamaican music. Dengan fasih mereka akan menerangkan satu per satu cabang aliran itu, lengkap dengan band yang memopulerkannya.

Souljah (disadur dari cara orang Jamaika melafalkan kata soldier) didirikan pada 1998 oleh sekelompok anak muda yang bekerja di bidang periklanan. Semula band ini diberi nama Arigato, dengan “keahlian” membawakan lagu milik Save Ferris dan No Doubt. Arigato ikut ambil bagian dalam “Kompilasi Ska Mania” keluaran Sony Music pada 1999. Empat tahun kemudian, Arigato kembali ikut dalam album kompilasi di bawah bendera Label Jepang Authority Record bersama Shaggy Dog, Tipe Ex, dan Alaska.

Menyandang nama Arigato, band itu kerap disangka mengusung aliran J-rock (Japanese rock). Inilah salah satu alasan mengapa mereka lantas mengubah nama menjadi Souljah. Tak hanya sampai di situ, mereka pun sepakat membuat album perdana dengan nama itu. Maka, lahirlah “Breaking The Roots”. Seperti judulnya, Souljah tak melulu menciptakan lagu dalam balutan Jamaican music. Sebaliknya, mereka bereksperimen, mencoba menggabungkan “sang akar” ke dalam beragam jenis aliran musik.

Read More »

Dewasa dalam Tempo Sedang

——————————
Mariah Carey
Emancipation of Mimi
Universal Music Indonesia
——————————

SETELAH gagal dengan dua album terakhirnya, “Glitter” (2001) dan “Chambracelet” (2001), yang bernuansa pop dewasa, Mariah Carey melakukan perubahan 180 derajat di album terbarunya, “Emancipation of Mimi”. Di album ke-10 ini, ia tampil dalam balutan musik R&B.

Tak mau tanggung, Carey menggandeng sejumlah artis R&B. Kolaborasi ini bisa didengar pada lagu Say Somethin’, di mana Carey bernyanyi bersama Snoop Dogg. Untuk lagu One and Only, Carey melibatkan Twista. Di Get Your Number hadir Jermaine Dupri, sementara Nelly ikut sumbang suara pada tembang To The Floor.

Usaha Carey tak sia-sia. Dalam waktu satu minggu sejak peluncurannya, album ini terjual lebih dari 400.000 keping. Angka penjualan tertinggi di minggu pertama dari semua album Carey. Album ini kemudian melesat sampai angka penjualan 1,1 juta keping. Awal Mei lalu, album ini menduduki peringkat pertama Billboard, sebelum turun satu peringkat karena kehadiran Bruce Spingsteen lewat Devil and Dust.

Materi lagu dalam album ini cukup impresif dan memberikan nuansa baru dibandingkan dengan tembang Carey terdahulu. Pada lagu We Belong Together yang bernuansa lembut, misalnya, bisa didengar kepiawaian Carey mencapai nada rendah. Selain lagu yang mengajak bergoyang, hadir pula lagu dengan sedikit sentuhan gospel, Fly Like a Bird.

Soal lirik, Carey menunjukkan kedewasaannya. Tengok lirik One and Only berikut: “Every time/turn around/I find my heart in pieces on the ground/So, so lonely/I’m looking for my one and only….” Pun ketika ia memandang sebuah hubungan yang sudah usai dalam Circle. Ia berjuang untuk benar-benar melepaskannya: “Ever since you left me/I’ve been trying to hide the pain/Painting on a smile with lipstick/Putting on a big charade….”