Ironi Negeri Atap Bumi

Tibet di Otak

Penulis : Yori Antar, Raudia Kepper, Enrico Soekarno, Jay Subyakto, Krish Suharnoko, Ella Ubaidi.

Penerbit : Gramedia Jakarta, 2005, 225 halaman

Sebuah buku tentang Tibet yang tak sekadar bertutur tapi juga bervisual. Serba-serbi pesona sekaligus kehancuran Tibet di mata enam peziarah

TAK bisa dimungkiri, negeri atap dunia ini sering menggelitik rasa ingin tahu banyak orang. Pesona keindahan alam di ketinggian, dengan ketertutupan, dan kisah pemimpin spiritual yang kini hidup terasing seperti daya tarik yang tak pernah habis. Kali ini, melalui Tibet di Otak giliran Yori Antar, Raudia Kepper, Enrico Soekarno, Jay Subyakto, Krish Suharnoko, dan Ella Ubaidi berbagi pengalaman melintasi “atap dunia” itu.

Buku unik ini merupakan catatan dan rekaman perjalanan yang ditempuh pada pertengahan September 2003 lalu. Perjalanan yang menurut Yori dilakukan sekelompok orang nyentrik itu penuh tantangan sampai akhir. Catatan sangat personal pun dituangkan. Namun, tulisan hanya sebagian porsi, sebab buku ini lebih banyak merekam perjalanan mereka di Tibet dalam bidikan kamera. Jadi, semacam esai foto-lah.

Keunikan tak sampai di situ. Peluncuran buku ini pada 14 April 2004 di Galeri Taksu, Kemang, Jakarta Selatan, disusul pameran foto dan instalasi hingga 23 April. Awal kegilaan enam sahabat ini dimulai dari kesamaan sekaligus perbedaan atas minat, pikiran, dan angan-angan tentang Tibet. Latar belakang mereka hampir sama, yakni orang-orang yang sangat paham persoalan bangunan, kebudayaan, dan fotografi.

Yori, Jay, dan Krish misalnya, berlatar belakang pendidikan arsitektur dan desain. Yori adalah pelopor kelompok Arsitek Muda Indonesia yang punya perhatian besar pada pelestarian bangunan bersejarah. Jay lebih dikenal sebagai sutradara video musik. Sedang Ella, adalah master bisnis yang aktif sebagai aktivis lingkungan. Adapun Raudia dan Enrico adalah pekerja seni yang banyak melahirkan karya di Eropa dan Asia.

Latar belakang dan minat menyatukan mereka dalam sebuah perjalanan ke Tibet. Toh, imajinasi mereka tentang Tibet berbeda. Seperti yang dituturkan Enrico, setiap orang telah menyimpan Tibet di otak masing-masing. Begitu pula keenam orang itu. Tapi, apa yang tersimpan di otak tak selalu sama dengan jejak rekam di dalam kenyataan.

Semenjak menjadi bagian dari Cina pada 1950, ketertutupan Tibet tak bertahan lama. Pada 1980, Cina mengumumkan negeri Dalai Lama itu terbuka untuk umum. Sejak itu, mengalirlah orang memasuki negeri itu dengan tujuan wisata. Namun, keterbukaan yang bukan kehendak sendiri itu harganya sangat mahal. Invasi Cina mengakibatkan ratusan biara hancur dan ribuan biarawan terenggut nyawanya.

Murka Cina masuk di akal. Mao Zedong pernah menyatakan “religion is poison” di hadapan Tenzin Gyatso, Dalai Lama ke-14. Murka itu menyebabkan Dalai Lama mengasingkan diri ke India. Bahkan foto-foto dan segala hal yang berbau Dalai Lama dilarang. Melanggar berarti menentang hukum.

Tak hanya kekerasan fisik yang terjadi, pembangunan yang dilakukan rezim Cina juga telah menggeser kebudayaan Tibet. Pembangunan itu secara perlahan namun pasti lebih sering berubah menjadi penghancuran budaya. Penyeragaman dan indoktrinasi dilakukan. Dominasi dan kepentingan penguasa mengeksploitasi Tibet habis-habisan.

Kenyataan asli “negeri atap dunia” itulah yang menyentakkan Tibet di otak keenam petualang ini. Dalam ratusan foto jepretan mereka dapat kita lihat bagaimana mereka mengabadikan sudut pandang dan kegelisahan masing-masing tentang Tibet. Mereka mencoba menyajikan Tibet yang tengah berbicara, tak sekadar foto belaka. Mulai dari Kathmandu tempat pertama mereka menjejakkan kaki, hingga Tibet dengan misterinya.

Tak hanya pemandangan, bangunan, atau simbol eksotika Tibet, sorot mata, dan gerak kehidupan pun diabadikan. Tibet di otak masing-masing sungguh mempengaruhi bidikan mereka. Yori yang memiliki perhatian serta kecintaan terhadap bangunan dan kebudayaan tak bisa menyembunyikan kekecewaannya, ketika menemukan Istana Potala ternyata berdampingan dengan deretan ruko-ruko pinggir jalan.

Larut dalam romantisme, Yori mengabadikan Tibet seolah-olah masih lengkap dengan kesunyian dan kesakralan yang murni, seolah belum tersentuh peradaban kekinian. Menggunakan kamera tipe Hassel Blad X- Pan dengan lensa built in 35 milimeter, Tibet tampak hidup seolah-olah hanya dibalut eksotika ketimuran. Begitu asyik, hingga ketika semua telah dilakukan, muncul kegelisahan di dalam diri Yori. “Apa yang membuat beda antara saya dengan orang orientalis, yang tidak terima melihat suku pedalaman di Irian tak lagi telanjang dan berkoteka?”

Berbeda dengan Jay Subyakto. Walau memiliki kekecewaan sama dengan Yori, namun Jay tetap menghadirkan kenyataan kekinian. Misalnya pada foto alam Tibet dengan sebuah papan iklan besar kosong menunggu pemilik modal mengiklankan produknya. Hasilnya, dua sisi Tibet sekaligus tampil. Di situ hadir bareng keselarasan arsitektur dengan alam, plus modernisasi yang sama sekali tak berkesinambungan dengan alam.

Meskipun modernitas hadir, hasil jepretan Jay dengan dua kamera, Nikkon FM lensa 24 dan 85 milimeter dan Mamia II-7 lensa 22 milimeter tetap memiliki kesunyian. Bahkan, lebih hening dari bidikan kawan-kawan seperjalanannya. Waktu seolah-olah berhenti. Ini memang yang diinginkan Jay. Sebab lelaki ini sempat berduka. “Di Tibet telah terjadi cultural genocide,” katanya. Dalam pandangan Jay, “negeri atap dunia” ini telah tercabik.

Krish Suharnoko, Ella Ubaidi, dan Raudia Kepper juga turut menyumbang kekayaan sudut pandang atas Tibet. Seperti halnya Yori dan Jay yang berlatar belakang arsitek, Krish sukses memperlihatkan Tibet sebagai karya tukang bangunan yang layak diapresiasi. Lewat kamera Leica MP lensa 20-85 milimeter kekuatan arsitektur beserta keunikan detail dan ornamentasi Tibet bisa muncul.

Tapi, mungkin di antara semua, Enrico-lah satu-satunya yang melakukan Ziarah Spiritual sebenarnya. Dengan latar belakang agama Budhanya, Enrico menyongsong Tibet sebagai jawaban atas panggilan spiritual. Hasil bidikan Enrico dengan kamera Nikkon FM, meletakkan manusia sebagai daya tarik utama sudut pandangnya. Walau Mao menyatakan agama adalah racun, orang Tibet dan para biarawan sampai kini tetap bertahan dan setia dengan keyakinannya.

Dalam buku ini juga dituturkan betapa “heroik” perjalanan penulis ke Tibet. Untuk menghemat, mereka memilih dipandu pekerja biro wisata lokal, sehingga masing-masing hanya mengeluarkan duit US$ 1.600. Mereka juga rela tinggal di penginapan berfasilitas ala kadarnya. Akibatnya, makanan tak hanya mengejutkan lidah tapi juga lambung. Belum lagi serangan high altitude sickness yang mendera Yori, Krish, dan Ella.

Menyimak buku ini, bisa jadi pembaca akan larut, seolah terlibat dalam perjalanan mereka. Ditambah dengan gaya bertutur yang santai, buku ini menimbulkan kesan intim bagi pembacanya. Foto-foto yang dihadirkan pun disajikan menjadi sebuah kesatuan perjalanan. Kesengajaan ini, menurut Krish, dilakukan dengan memakai pemilihan tema dan kronologi perjalanan, bukan siapa pembidiknya.

Kekurangan terasa apabila foto-foto tersebut ditelaah satu per satu. Terlebih jika mengacu pada aksioma bahwa gambar lebih berbicara dari ribuan kata. Beberapa foto terkesan tidak berbicara dan tak beda seandainya dijepret di tempat lain. Tidak ada penanda tempat, waktu, ataupun simbol kebudayaan tertentu. Namun kekurangan ini tak lantas merusak kesatuan esai foto tersebut. Karena di sisi lain ia melengkapi keseluruhan.

Pertanyaannya, apakah Tibet di Otak dapat mewakili keindahan dan ketertindasan Tibet yang sesungguhnya, ataukah sekadar cukup memuaskan rasa penasaran tentang Tibet di otak pembaca? Tentu semua itu tak bisa dijawab dengan satu buku. Dengan rendah hati para penulis tidak hendak mewakili Tibet. Mereka adalah peziarah dengan kerinduan masing-masing yang mencoba membagi pengalamannya.

Perjalanan mereka memang memberi inspirasi. Sebagaimana mereka pun terinspirasi ucapan Jutsun Milarepa, seorang penyair agung Budha pemimpin sekte Kagyu, “the creations of the mind are numerous than specks of dust in a ray of sunlight”. Sebagai karya yang menyajikan ironi-ironi keindahan, buku ini layak dikoleksi.

The URI to TrackBack this entry is:
http://pitakasari.blogsome.com/2005/04/28/ironi-negeri-atap-bumi-2/trackback/

Responses to Ironi Negeri Atap Bumi
  1. Gravatar Image

    ajeng said:

    resensi buku yang terpanjang yang pernah kutulis sampai saat ini.

    32 days after the fact.
  2. Gravatar Image

    dodY said:

    bagus banget! jd pengen beli bukunya! salam kenal dari surabaya!

    54 days after the fact.
  3. Gravatar Image

    sahrudin said:

    buku yang dahsyat!

    581 days after the fact.
  4. Gravatar Image

    ndok said:

    tau website ato apa ajalah tentang jay subyakto?thx

    Jay subyakto, hmmm kalau website ga tahu neh. Tapi orangnya selain aktif sebagai fotografer juga sering nongol di acara Arsitek Muda Indonesia (AMI), soalnya dia anggota disitu, dan yang pasti sering sibuk jadi Art Director kalau lagi ada konser.

    660 days after the fact.

Leave a Reply